bebek bebek ku; mari ke mari;
ikutlah aku; ke kebun bibi

disana banyak; kesukaanmu
cacing yang gemuk; Hap!!!! Lalu ditelan

Lagu lama dari Yoan Tanamal kalau tidak salah. Papi sendiri lupa. Entah berapa kali Gabriel mendengar Ompung Boru melagukan lagu itu sampai akhirnya dia ‘hapal’ lagunya.

Hapal dalam arti tahu lagu dan ingat sedikit liriknya. Kemaren kemaren, Ompung bilang kalau lirik ‘cacing yang gemuk’ dilantunkan dengan ‘cacing yang gemuk gemuk…’

Semalam, setelah terbangun karena suara Abang Yeremia, Gabriel tidur larut. Entah kenapa, dia melagukan lagu tersebut secara berulang-ulang. Setelah sebelumnya bermain cium-pingsan.

Bermain cium-pingsan itu, kurang lebih Gabriel akan mencium Mami atau Papi [lebih sering dengan Mami tepatnya], untuk kemudian Mami atau Papi akan pura pura pingsan. Semalam, dengan Mami prosedur itu dijalankan. Tapi dengan papi, prosedurnya terbalik. Gabriel yang pingsan, dengan cara menjatuhkan badannya di kasur.

Disela main cium-pingsan itulah dia melagukan lagu bebek itu. Dengan lagu yang mirip, namun liriknya agak sedikit ngaco. Tak apalah, nak. Tingkahmu membuat gemas Papi dan Mami.

 

Gabriel sudah punya kebiasaan, ketika diajak berkenalan. Setiap kali kenalan, dan diajak salaman, Gabriel akan menyebut namanya setelah yang mengajak salaman menyebut nama mengenalkan diri. “Dedek” pasti begitu katanya.

Libur kemarin, ketika bertemu dengan seorang teman papi di Ambasador, Gabriel diajak kenalan. Nah, ketika mengenalkan diri, Gabriel bilang “Abang”. Sang teman kemudian menimpali,”kok namanya sama?” Tanpa disangka, Gabriel meralat ucapannya sendiri, “Dedek,kaleeee…”

 

Usai sudah proses imunisasi Gabriel. Ditutup dengan seri ketiga dari imunisasi campak di bulan kesepuluh usianya.

Seperti biasa, dan sebagaimana Abang Yeremia, imunisasi dilakukan oleh Ompung dokter di praktek Graha Indah. Seperti imunisasi sebelumnya, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Bahkan ketika dibaringkan diatas tempat tidur periksa dan Ompung mami ditugaskan memegang kedua kakinya. Juga saat jarum suntik yang tajam itu menembus kulit halus kakinya, senyum masih menghias wajahnya.

Teriakan baru terdengar saat jarum suntik dicabut dan dengan sigap oleh Ompungnya. Gabriel menangis. Tapi tidak lama. Teriak dan jeritannya tidak lebih dari semenit. Setelah itu, dengan mata masih berair, biasanya Gabriel akan diam. Dan kalau digoda, senyumnya akan keluar. Meski masih sedikit tertahan.

Untuk imunisasi terakhir ini, tidak seperti biasa yang oleh Ompung dokter disarankan minum Panadol untuk menurunkan demam, sebagai efek imunisasi, Gabriel hanya diberi puyer. Namun hingga sehari setelah imunisasi, Gabriel tidak demam. Adek hebat, euy.. Sesaat sebelum masuk ruang praktek, seperti biasa, Gabriel juga ditimbang. Ternyata sekarang, Gabriel sudah sepuluh setengah kilogram.

 

Gabriel Raffles Tambunan adalah adik dari Yeremia Dimpos Bisuk Tambunan, putra kedua dari Goklas Alphon Rudiarto Tambunan dan Anne Sondang Erika Tambunan br Sianipar.

Blog ini akan bercerita lebih banyak tentang Gabriel